 |
| Banyak gaya dan aksen bahasa Inggris di kalangan orang Inggris. |
Orang Inggris, kesan saya, amat suka bahasa dan itu yang mungkin membuat bahasanya menjadi agak rumit dan banyak 'makna'.
Dari cara berbahasa, misalnya, bisa kita tebak kelas sosial seseorang -saya yakin di abad ke-21 ini pun- banyak orang
KlikInggris yang masih memiliki kesadaran kelas.
Kira-kiranya, orang yang banyak menggunakan kata-kata lama atau frasa bisa diduga berasal dari kelas sosial, ekonomi, dan pendidikan relatif tinggi.
Juga, jika mendengar tukang bangunan secara langsung dan Ratu Elizabeth -lewat TV atau radio- bukan hanya aksen yang berbeda, juga tata bahasa, dan perbendaharaan kata.
Bahasa mencerminkan pula sopan santun, yang kadang bisa diartikan 'bertanya atau berkata secara tidak langsung'.
Saya jadi ingat kembali buku Watching the English yang ditulis antropolog Kate Fox, yang mengatakan kalau ada orang menyapa 'nice weather isn't it' maka tidak selalu dia mau membahas cuaca tapi bisa juga ajakan 'ngobrol yuk'.
Bagaimana kita tahu bedanya? Berdasarkan aksen, suasana, dan raut muka saat menyapa itu. Repot?
Inggris sebagai bahasa kedua
Ya bahasa Inggris -menurut saya yang bukan jago bahasa- memang sulit.
 |
| Siswa di City of Leeds School belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. |
Dan saya ternyata tidak sendirian karena juga dialami beberapa orang Inggris sekali pun.
Maka senyum kecil langsung muncul ketika membaca berita tentang sebuah sekolah menengah di Leeds, Inggris utara, yang mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk para siswa.
Jadi di City of Leeds School, bahasa Inggris tidak dipelajari seperti di sekolah lain atau seperti orang Indonesia belajar bahasa Indonesia di sekolahnya, tapi menggunakan bahan pelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.
Memang sekolah itu rada unik.
Sebanyak 314 muridnya berasal dari 50 negara dan kepala sekolahnya, Georgiana Sale, mengakui kepada BBC bahwa perbendaharaan murid-murid yang bahasa Inggris bukan sebagai bahasa ibu amat terbatas.
Tapi dia menambahkan pula banyak muridnya yang lahir dan besar dalam bahasa Inggris asli juga menghadapi masalah.
"Anak-anak lain yang asli berbahasa Inggris tidak memiliki tingkat bahasa Inggris yang cukup, yang bisa membuat mereka mendapat nilai A plus untuk sejarah atau A untuk sains," tambahnya.
Berita itu rada menenangkan saya -yang bahasa Inggrisnya masih terbatas- sekaligus meyakinkan bahwa bahasa Inggris repot.
Supaya keren?
Apakah Anda masih ingat kasus Mister Vicky Prasetyo dengan campuran kata Inggris dan kata Indonesia dalam rekaman yang ramai di YouTube beberapa waktu lalu?
 |
| Rekaman wawancara Vicky Prasetyo yang menggunakan campuran kata Inggris dan Indonesia. |
Dari 'pria 29 year my age' itu ada istilah 'konspirasi kemakmuran' atau 'labil ekonomi', yang kalau direka-reka secara bebas mungkin ada juga maknanya.
Saya dan banyak orang lainnya menduga campuran kata Inggris dan kata
KlikIndonesia mungkin terdengar lebih keren.
Dan sebelum menulis blog ini, ketika kami semua tengah mengerjakan tugas masing-masing, seorang rekan melempar pertanyaan terbuka, "Kita pakai sosial media atau media sosial?" untuk merujuk antara lain Facebook dan Twitter.
Kami memutuskan media sosial karena begitulah mestinya aturan DM walau kurang 'keren'.
Pertanyaan itu berkembang jadi obrolan singkat, banyak orang Indonesia yang menggunakan 'sosial media' dan juga Anda mungkin sering membaca atau mendengar, misalnya, 'jersi' atau 'rider'.
Bahasa jelas berkembang, antara lain dengan menyerap kata-kata asing, tapi semoga siswa di Indonesia tidak perlu belajar bahasa Indonesias sebagai bahasa kedua.